November, 2011. Ada apa dengan kita yang tak pernah merasa? Pada siapa kita sandarkan bising? Selalu pada hening; pada kosong yang bersemayam dalam ketidakpastian; bukan, mungkin ketidak teraturan. Yang langit melangitlah! Yang bumi membumilah! Pukul 14.30, Jumat. Ada emosi yang menggila antara aku dan perempuan; perempuan di ujung senja. Di depan sebuah layar, memerhatikan perjuangan, keresahan juga sebuah perbatasan. Kami bertatap sekejap, menikmati aroma racun jingga yang mengalir di setiap sela-sela raut wajah yang tumpah. Tidak teratur tetapi indah. Seperti cat air yang berserakan. Ada ikrar yang bertahan sebentar. Dua puluh sembilan hari yang lalu, aku pernah kaku pada bisu. Sebuah perjuangan kasar demi membela yang benar. Ya, mungkin orang-orang bilang radikal. Tapi ini nilai atas apa yang telah dicapai. Tinagkah laku seseorang memang ditentukan oleh keilmuan dan metode berpikirnya. Ada aksi pada diri, pada negeri, pada birokrasi. Sebab ketidaktahua...