Puisi husna taufik

Kepada kembang yang menghubungkan siang dan malam, yang menjahit luka dengan aroma. 

Pucuk-pucuk keheningan yang rekah di penghujung doa. Berkali-kali kedipan mata.
Mengental di kabut-kabut sisa hujan para peramu senja. Langit yang pulas, rindu yang deras. 
Berkenankah kuhirup lantaran ikhlas?

Picture by: viani rahma


Kepada kembang yang telah menelanjangi kemiskinanku.
Mekar adalah penawar, layu menjadi rayu. Aroma mengisyaratkan puja, wangi memberi puji. 

Demi bumi yang menampung jejak, demi langit yang menghapusnya.
Berkenankah kutebar lantaran sabar?

Kepada kembang yang ronanya tak surut di musim Eropa dan Asia; yang menyala diantara api dan senja.

Aku tahu kegelisahan yang bersemayam di sekujur tubuhmu yang muda.

Aku menunggumu menyebut nama sirna pada ragu yang bersarang di rongga dada.
Berkenankah kulamar keraguannya tanpa lantaran?

@husnaataopik
@mantraasmara
Jampangkulon, 5 Januari 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENERAPAN SOSIOLOGI DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT

Al aman News