SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN
A. SOSIALISASI
1.
Pengertian
Sosialisasi
a. Soerjono
Soekanto : Proses social dimana individu
mendapatkan pembentukan sikap untuk berprilaku sesuai prilaku orang-orang di
sekitarnya.
b. Peter L.
Berger : Proses individu menjadi
anggota masyarakat yang partisipatif
c. Edward Shils : Proses social seumur hidup
seseorang yang dijalani sebagai anggota kelompok dan masyarakatnya melalui
pembelajaran kebudayaan.
2.
Tahapan
Proses Sosialisasi
Menurut
George Herbert Mead tahapan sosialisasi dapat dibedakan melalui tahapan sebagai
berikut :
a.
Tahap
Persiapan ( Preparatory Stage )
Pada tahap ini sosialisasi primer terjadi. Individu yang dekat
dengan individu lainnya berinteraksi dan terjadi sosialisasi.
b.
Tahap Meniru
( Play Stag )
Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak
menirukan peran yang dilakukan oleh orang dewasa
c.
Tahap Siap
Bertindak ( Game Stage )
Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh
peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuan
menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat sehingga memungkinkan
adanya kemampuan bermain secara bersama-sama. Dia menyadari adanya tuntutan
untuk membela keluarga dan bekerjasama dengan teman-temannya.
d.
Tahap
Penerimaan Norma Kolektif ( Generalized Stage/Generalized Other )
Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah mampu
menempatkan dirinya pada posisi msyarakat yang lebih luas. Manusia dengan
perkembangan diri pada tahap ini telah menjadi warga masyarakat dalam arti
sepenuhnya.
3.
Macam-Macam
Sosialisasi
a.
Sosialisasi Primer (Primary
Socialization)
Sosialisasi primer adalah sosialisasi yang pertama kali dijalani
individu semasa kecil. Sosialisasi ini menjadi pintu bagi seseorang memasuki
keanggotaan masyarakat.
b.
Sosialisasi Sekunder (Secondary
Socialization)
Sosialisasi sekunder berlangsung pada tahap selanjutnya. Selama
proses ini, individu mengenal sektor-sektor baru yang ada di masyarakat. Salah
satu bentuk sosialisasi sekunder adalah resosialisasi. Resosialisasi adalah
proses pemberian kepribadian baru kepada seseorang. Resosialisasi sering pula
disebut sebagai proses pemasyarakatan total. Sebagai contoh, proses
pemasyarakatan yang dialami para penghuni penjara, rumah sakit jiwa, dan
pendidikan militer.
4.
Fungsi dan Tujuan
Sosialisasi
Secara umum, sosialisasi bertujuan untuk
membentuk kepribadian. Kepribadian terbentuk melalui proses mempelajari
pola-pola kebudayaan. Kebudayaan yang dipelajari meliputi nilai-nilai,
norma-norma, beserta sanksi-sanksi yang akan diterima bila terjadi
penyimpangan. Setelah kepribadian terbentuk, manusia siap menjalankan perannya
di dalam kehidupan sehari-hari. Fungsi umum itu dapat dilihat dari dua sudut
pandang, yaitu sudut pandang individu dan kepentingan.
5.
Media Sosialisasi
a.
Keluarga
Pertama kali manusia mengalami proses sosialisasi adalah di
dalam keluarga tempat dia dilahirkan. Keluarga sebagai kesatuan yang terdiri
atas ayah, ibu, dan anak merupakan kelompok terkecil dalam masyarakat. Namun,
peran yang dimilikinya sangat penting dalam proses sosialisasi. Sebagai
kelompok sosial, keluarga memiliki nilai-nilai dan norma-norma tertentu.
Misalnya, tata karma hubungan anak dengan orang tua, atau tata krama hubungan
antara kakak dengan adiknya. Nilai-nilai dan norma-norma keluarga itulah yang
pertama kali disosialisasikan kepada seorang anak yang baru lahir.
b.
Teman Sebaya
Dalam kelompok teman sebaya itulah seorang anak mulai menerapkan
prinsip hidup bersama di luar lingkungan keluarganya. Mereka dapat bekerja sama
dengan teman-teman sebaya dalam berbagai hal. Jalinan antarindividu dalam
kelompok teman sebaya sangat kuat, sehingga lahirlah nilai dan norma tertentu
yang dijunjung tinggi dalam pergaulan mereka. Tidak jarang mereka menggunakan
simbol-simbol tertentu sebagai identitas kelompok. Semua nilai, norma, dan
simbol itu berbeda dengan yang mereka hadapi di dalam keluarga masing-masing.
Di dalam kelompok ini mereka saling menyesuaikan diri karena menyadari
keberadaan orang lain dan rasa saling membutuhkan. Fungsi utama kelompok teman
sebaya dalam proses sosialisasi ialah sebagai berikut:
·
Terjadinya proses akulturasi dan asimilasi
budaya, karena dalam satu kelompok teman sebaya terdiri dari beberapa orang
yang memiliki latar belakang budaya pribadi dan budaya daerah asal yang
berbeda-beda.
·
Kelompok teman sebaya mengajarkan mobilitas
sosial, yaitu pergerakan posisi seseorang secara dinamis baik vertikal maupun
horisontal dalam struktur organisasi kelompok. Misalnya, semula anggota
kelompok biasa menjadi tokoh penting dalam kelompoknya atau sebaliknya.
·
Kelompok teman sebaya memicu kesempatan seorang
anak dalam memperoleh peran dan status baru. Hal ini dapat terjadi sehubungan
dengan adanya perubahan posisi yang menyebabkan terjadinya perubahan peran.
Misalnya, seorang anak dipercaya oleh teman-temannya menjadi ketua di antara
mereka, maka dia berperan sebagai pemimpin dalam kelompoknya.
Di dalam masyarakat, kelompok teman sebaya dapat berbentuk
chums,cliques, crowds, dan kelompok terorganisasi.
Ø
Chums adalah kelompok yang terdiri atas dua atau
tiga orang sahabat karib. Pada umumnya, anggota kelompok ini mempunyai kesamaan
dalam hal jenis kelamin, bakat, minat, dan kemampuan. Cliques adalah kelompok
yang terdiri atas empat sampai lima orang sahabat karib, dan mempunyai kesamaan
dalam hal jenis kelamin, minat, kemauan, dan kemampuan yang sama. Cliques juga
merupakan kelompok gabungan dari beberapa sahabat karib.
Ø
Crowds adalah kelompok teman sebaya yang terdiri
atas banyak remaja yang memiliki minat sama. Pada umumnya, mereka juga anggota
chums dan cliques. Karena jumlah anggotanya banyak, maka sering terjadi
ketegangan emosional di antara mereka.
Ø
Kelompok terorganisir adalah kelompok yang
sengaja dibentuk dan direncanakan oleh orang dewasa. Pada umumnya, kelompok
pecinta alam, kelompok belajar, regu kerja, pramuka, dan lain-lain.
Selanjutnya, kelompok tersebut dikelola melalui lembaga formal dengan
aturan-aturan sistematis dan dipatuhi anggotanya.
c. Sekolah
·
Sekolah menjadi media transmisi kebudayaan. Kebudayaan yang
diteruskan dapat berupa ilmu pengetahuan, kecakapan, maupun nilai dan sikap.
·
Sekolah mengajarkan peranan sosial.
Dalam berbagai kegiatan di sekolah, siswa diajari berbagai
kecakapan. Mereka juga berkesempatan memegang peran dalam berbagai organisasi
(OSIS, Pramuka, pecinta alam, dan lain-lain).
·
Sekolah menciptakan integrasi sosial.
Peranan ini penting bagi bangsa Indonesia yang beragam budaya,
suku, agama, dan kelompok sosialnya. Sekolah mengajarkan nilai-nilai hidup
bersama dan toleransi kepada para siswa. Nilai-nilai tersebut diterapkan secara
langsung dalam kehidupan sehari-hari warga sekolah. Bentuknya dapat berupa
pemberian perlakuan, kesempatan, dan pelayanan yang sama kepada setiap siswa.
·
Sekolah melahirkan terobosan-terobosan baru. Proses belajar
mengajar di sekolah memungkinkan terciptanya hal-hal baru yang positif. Hal itu
dapat diterapkan di masyarakat luas. Misalnya, pembaruan cara hidup sehat.
Mulamula diajarkan di sekolah, kemudian diterapkan di masyarakat.
·
Sekolah membentuk kepribadian siswa. Siswa dibiasakan tertib,
berpikir logis dan maju, hidup terencana, bekerja sama, berpacu dalam prestasi,
saling menghargai dan tenggang rasa. Akhirnya, terbentuklah kepribadian siswa
sehingga menjadi warga masyarakat yang baik dan berguna. Proses sosialisasi
pengetahuan dan keterampilan merupakan program yang bersifat nyata (real
curricullum). Artinya, proses pembelajaran yang terprogram dalam kurikulum
sekolah, sedangkan sosialisasi nilai dan sikap merupakan kurikulum tersembunyi
(hidden curriculum). Pelaksanaannya tidak terprogram secara eksplisit, tetapi
terintegrasi dalam semua proses dan kegiatan di sekolah.
TIGA FUNGSI UTAMA SEKOLAH
Sekolah
merupakan wiyata mandala (lembaga pendidikan). Suatu lingkungan yang memiliki
tradisi dan budaya tersendiri. Lembaga ini menekankan kultur learning society
(masyarakat belajar). Pembudayaan belajar merupakan salah satu proses
pembentukan kepribadian siswa. Sekolah memiliki tiga fungsi :
·
fungsi
kognitif
Merupakan aktivitas mental (otak) secara sadar seperti berfikir,
mengingat, belajar dan menggunakan bahasa. Fungsi kognitif juga merupakan
kemampuan atensi (bereaksi/memperhatikan satu stimulus) , memori, pertimbangan
pemecahan masalah serta kemampuan eksekutif seperti merencanakan, menilai,
mengawasi dan melakukan evaluasi.
·
fungsi
psikomotorik
Merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan ( Skill ) atau
kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu.
·
fungsi
afektif
Merupakan
fungsi yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif mencakup watak
prilaku seperti perasaan, minat, emosi dan nilai.
Oleh karena
itu, sekolah berperan dalam mentransfer pengetahuan, keterampilan atau
keahlian, dan membentuk sikap.
d.
Lingkungan
Kerja
Setelah menyelesaikan sekolah, seseorang kemudian memasuki
lingkungan kerja. Ada berbagai macam lapangan pekerjaan di masyarakat. Di dalam
lingkungan kerja manapun, seseorang akan selalu berinteraksi dengan orang lain.
Interaksi sosial itu membuat orang saling menerima dan memberi pengaruh.
Terjadilah penyesuaian tingkah laku, baik penyesuaian antarpribadi maupun
penyesuaian dengan lingkungan kerja secara umum. Penyesuaian itulah yang
Infososio membentuk kepribadian seseorang, karena dalam interaksi tersebut
terjadi sosialisasi nilai dan norma sosial. Selain itu, dalam lingkungan kerja,
seseorang mengemban fungsi dan tanggung jawab dalam pekerjaannya. Dalam hal
seperti ini, orang tersebut sedang menjalankan peran tertentu dalam organisasi
kerja yang melibatkan dirinya. Dia bisa menjadi pimpinan perusahaan, pimpinan
bagian, atau karyawan biasa. Semua peran itu menuntut seseorang mematuhi norma
dan menjunjung nilai-nilai sosial demi lancarnya pekerjaan. Walaupun lingkungan
kerja bukan lagi sebuah keluarga atau sekolah, namun di sana seseorang juga
masih belajar. Sebab, pada dasarnya belajar adalah proses sepanjang hidup.
Apabila seseorang memasuki lingkungan kerja baru, maka dia akan menghadapi
orang-orang dan situasi baru. Semua itu membutuhkan interaksi yang melibatkan
nilai dan norma tertentu. Nilai-nilai itu antara lain nilai kerja sama,
tanggung jawab, toleransi, kejujuran, loyalitas, dan penghargaan terhadap
prestasi serta semangat kerja.
e.
Organisasi
Organisasi adalah sebuah tipe pembentukan kolektifitas yang
dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan khusus. Organisasi di tandai dengan
adanya struktur atau aturan-aturan formal, hubungan kewenangan atau otoritas, pembagian
kerja, dan keanggotaan yang dibatasi. Organisasi memerankan fungsi sebagai
media sosialisasi pada tingkat lanjutan khusus. Walaupun demikian, proses
interaksi yang khusus tersebut tidak mengurangi kesempatan bagi
anggota-anggotanya untuk saling bersosialisasi. Materi sosialisasi tidak
terbatas pada nilai, norma, struktur, dan sistem yang terkait dengan organisasi
akan tetapi juga masalah-masalah yang lain seperti keluarga, pekerjaan, atau
lingkungan tempat tinggal. Pada masyarakat kita, dikenal tiga bentuk
organisasi. Organisasi tersebut antara lain sebagai berikut.
·
Organisasi
Sosial Kemasyarakatan
Organisasi ini mempunyai ciri beranggotakan terbuka dan disatukan
dalam struktur, aturan, dan hubungan kerja yang tertata rapi. Hal yang
menyatukan anggota dalam organisasi ini adalah tujuan, kepentingan dan visi
yang sama.
·
Organisasi
Sosial Keagamaan
Organisasi ini beranggotakan semi terbuka karena adanya
prinsip-prinsip dasar seperti ideologi dan tujuan yang membatasi organisasi
tersebut. Struktur dan aturan dalam organisasi ini bersifat formal. Struktur
dan aturan dalam organisasi ini bersifat formal, akan tetapi di dalam
pelaksanaannya bersifat lunak dan kekeluargaan. Misal, NU dan Muhammadiyah.
·
Organisasi
Profesi
Organisasi ini dibentuk untuk tujuan khusus yang berkaitan dengan permasalahan
dengan kepentingan dalam profesi atau pekerjaan. Keanggotaan bersifat tertutup
yang didasarkan persamaan potensi. Misal, PERGUNU ( Persatuan Guru Nahdlatul
Ulama ), SARBUMUSI ( Sarikat Buruh Muslim Indonesia ).
B. PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN
Sigmund
Freud menyatakan bahwa kepribadian seseorang terdiri atas tiga aspek, yaitu aspek
biologis, aspek psikologis, dan aspek sosiologis. Setiap aspek memiliki fungsi,
sifat, komponen, prinsip kerja, dan dinamika sendiri-sendiri. Namun, ketiganya
tidak dapat dipisahkan, karena secara bersama-sama mempengaruhi tingkah laku
manusia.
Aspek biologis
kepribadian disebut id, merupakan dunia batin seseorang. Id terdiri atas
hal-hal yang dibawa sejak lahir, termasuk insting atau naluri. Naluri manusia
cenderung mengarahkan perilaku manusia untuk mencari kenikmatan dan menghindari
ketidakenakan.
Aspek
psikologis kepribadian disebut ego, merupakan bagian dari kepribadian seseorang
yang berfungsi mencari jalan pemenuhan dorongan-dorongan naluri manusia,
misalnya seseorang yang lapar, secara naluriah ingin memenuhinya dengan makan.
Egolah yang mengarahkan seseorang untuk mencari makanan. Oleh karena itu, ego
disebut juga aspek yang menghubungkan dunia batin (id) dengan realistas atau
dunia nyata (superego).
Aspek
sosiologis kepribadian disebut superego. Aspek ini berfungsi menentukan apakah
suatu perilaku benar atau salah, pantas atau tidak, sopan atau tidak, atau
sesuai dengan nilai moral dalam masyarakat atau tidak. Aspek ini merupakan
hasil sosialisasi seseorang di masyarakat. Nilai dan norma sosial
diinternalisasikan dalam kepribadian seseorang melalui proses belajar. Apabila
sudah terinternalisasi, selanjutnya berfungsi untuk mengahalangi dorongan
berperilaku melanggar norma dan mendorong untuk berperilaku yang sesuai norma.
Berdasarkan
teori ini, kepribadian seseorang dipengaruhi oleh dorongan-dorongan naluriah
dan internalisasi nilai-nilai sosial. Apabila aspek biologis yang berpengaruh
kuat, maka kepribadian seseorang cenderung Proses Sosialisasi dan Pembentukan
Kepribadian mengikuti naluri dan melanggar norma. Sebaliknya, apabila seseorang
cukup memperoleh sosialisasi nilai-nilai sosial, maka kepribadiannya akan
sesuai dengan nilai dan norma di masyarakat.
1. Faktor-faktor Pembentuk Kepribadian
Terbentuknya
kepribadian setiap individu dipengaruhi oleh faktor-faktor biologis, lingkungan
fisik, kebudayaan, dan pengalaman-pengalaman. Faktor biologis dapat berupa
keadaan jasmani ibu selama mengandung bayi dan factor warisan biologis.
Berbagai faktor itu membentuk kebiasaan, sikap, dan sifat yang khas pada setiap
orang. Kepribadian seseorang selalu berkembang sejalan dengan berbagai pengaruh
yang ia peroleh melalui proses sosialisasi dan interaksi dengan orang lain.
a.
Faktor
Prakelahiran (Prenatal)
Sebelum dilahirkan, seorang anak manusia berada dalam kandungan
selama kira-kira sembilan bulan sepuluh hari. Selama masa itu, terdapat
beberapa hal yang dapat memengaruhi perkembangan calon individu. Penyakit yang
diderita ibunya, seperti sipilis, diabetes, dan kanker dapat memengaruhi
pertumbuhan mental, penglihatan, dan pendengaran bayi dalam kandungan. Keadaan
kandungan ibu juga dapat memengaruhi perkembangan kepribadian anak yang akan
dilahirkan. Kondisi daerah pinggul ibu dapat memengaruhi pertumbuhan bayi
selama dalam kandungan. Akibat kondisi yang tidak menguntungkan, dapat
menyebabkan bayi lahir cacat atau kidal. Keterkejutan keras (shock), saat lahir
dapat pula mengakibatkan bayi itu memiliki kelambanan dalam berpikir. Semua itu
dapat memengaruhi pembentukan kepribadian.
b.
Faktor
Keturunan (Heredity)
Warisan biologis berpengaruh penting dalam membentuk beberapa ciri
kepribadian seseorang, namun tidak menentukan semua ciri kepribadian orang
tersebut. Warisan biologis akan berkembang secara optimal bila mendapat
pengaruh positif dari lingkungan. Warisan biologis antara lain intelegensi,
temperamen, watak, cara berbicara, tinggi badan, warna kulit, jenis rambut, dan
sebagainya. Sifat seseorang yang dipengaruhi faktor keturunan adalah
keramah-tamahan, perilaku kompulsif (perilaku terpaksa), dan kemudahan dalam
pergaulan sosial. Berikut ini akan dijelaskan tiga faktor keturunan yang paling
menonjol.
1). Ciri Fisik-Biologis
Secara biologis, setiap manusia memiliki ciri-ciri fisik berbeda
yang diwarisi dari orang tuanya. Ada orang yang berbadan tinggi dan gagah,
namun ada pula yang kecil dan pendek. Perbedaan fisik-biologis seperti itu
dapat memengaruhi ciri kepribadiannya. Orang bertubuh kecil dan pendek mungkin
memiliki sifat rendah diri, atau paling tidak merasa tidak seberuntung orang
yang berbadan tinggi dan gagah. Demikianlah cara berpengaruhnya factor biologis
terhadap kepribadian seseorang. Tentu saja tidak selalu seperti gambaran
tersebut. Ada juga orang yang bertubuh kecil dan pendek, tetapi memiliki rasa
percaya diri yang besar, terutama apabila sejak kecil lingkungan mengajarinya
menjadi orang yang percaya diri.
2). Ciri
Psikologis
Sebagian dari sifat dasar yang diwariskan orang tua adalah faktor
kejiwaan (psikologis). Unsur-unsur kejiwaan terdiri dari temperamen, emosi,
nafsu, dan kemampuan belajar. Temperamen adalah perangai, sifat, atau watak
yang ditandai dengan mudah atau tidaknya seseorang terpancing amarahnya. Ada
orang yang dikenal dengan temperamen tinggi atau mudah marah. Emosi berhubungan
dengan rasa senang atau tidak senang, suka atau tidak suka, dan sedih atau
gembira. Orang emosional tidak selalu berarti orang yang cepat atau suka marah.
Orang yang mudah terharu melihat adegan sedih dalam film juga termasuk orang
yang emosional. Nafsu adalah keinginan kuat ke arah suatu tujuan. Nafsu ada
yang mengarah pada tujuan positif, seperti nafsu makan, nafsu menjadi orang
sukses, dan lain-lain. Namun ada pula nafsu ke arah tujuan negatif, misalnya
nafsu serakah dan keinginan untuk menang sendiri.
3). Tingkat
Kecerdasan
Salah satu bagian kepribadian yang diwarisi dari orang tua adalah
kemampuan belajar atau tingkat kecerdasan. Menurut hasil suatu penelitian,
kecerdasan seorang anak mirip atau hampir sama dengan tingkat kecerdasan orang
tua kandungnya. Apabila seorang anak diasuh oleh orang tua angkat, tingkat
kecerdasan orang tua angkat tidaklah berpengaruh. Setiap orang memiliki tingkat
kecerdasan yang berbeda. Para ahli ilmu jiwa menggolongkan tingkatan-tingkatan
itu menjadi idiot, debil, embisil, moron, normal, pandai, supernormal, dan
genius. Rata-rata orang memiliki kecerdasan normal, hanya sedikit orang yang
memiliki tingkat kecerdasan di atas normal (genius) atau di bawah normal
(idiot).
c.
Faktor
Lingkungan (Environment)
Ciri-ciri kepribadian seseorang dalam hal ketekunan, ambisi,
kejujuran, kriminalitas, dan kelainan merupakan hasil pengaruh lingkungan. Lingkungan
adalah segala sesuatu yang ada di sekitar kita, baik keadaan fisik, sosial,
maupun kebudayaan. Dengan demikian, ada tiga faktor lingkungan yang dapat
memengaruhi pembentukan kepribadian seseorang. Namun, pengaruh ketiganya tidak
berdiri sendiri.
1).
Lingkungan Fisik
Lingkungan fisik meliputi keadaan iklim, tipografi, dan sumber
daya alam. Ketiganya dapat memengaruhi perilaku masyarakat yang tinggal di dalamnya.
Keadaan iklim dan geografi suatu daerah memengaruhi perilaku seseorang. Tanah
yang subur mampu mendukung kehidupan penduduk secara lebih baik. Kualitas hidup
yang baik memengaruhi perilaku seseorang. Sementara itu, daerah yang tandus
menyebabkan penduduknya miskin. Perilaku orang miskin jelas berbeda dengan
perilaku orang berkecukupan. Keadaan lingkungan fisik juga berpengaruh terhadap
karakter seseorang, misalnya kehidupan pada masyarakat pantai. Orang-orang yang
tinggal di pantai berbicara dengan nada keras dan agak kasar. Hal tersebut keras
karena menyesuaikan dengan lingkungan laut yang juga keras. akibat pengaruh
suasana laut yang riuh oleh deburan gelombang. Mereka berbicara keras dan
berwatak kasar karena dipengaruhi kehidupan yang keras di laut.
2). Lingkungan
Sosial
Unsur-unsur pembentuk lingkungan sosial adalah kebudayaan,
pengalaman kelompok, pengalaman unik, sejarah, dan pengetahuan. Faktor
lingkungan sosial bersifat dinamis yang artinya faktor tersebut tidak bersifat
permanen dan akan terus mengalami perubahan. Unsur-unsur tersebut memberi
pengaruh terhadap individu yang terlibat dalam lingkungan sosialnya. Pengaruh
yang diberikan kepada seorang individu. Hal seperti ini menyebabkan kepribadian
yang muncul pada setiap individu juga berbeda-beda. Di samping itu, juga dapat disebabkan
oleh perbedaan cara yang dilakukan oleh setiap individu dalam membentuk
kepribadiannya masing-masing.
a). Unsur
Kebudayaan
Bentuk kebudayaan yang berkembang dalam suatu
kelompok masyarakat sangat berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian
anggota-anggotanya. Suatu kebudayaan tidak secara langsung memengaruhi suatu
masyarakat, akan tetapi melalui proses pembiasaan yang terjadi terus-menerus.
Dengan proses pembiasaan tersebut, anggota-anggota masyarakat akan mengalami
perkembangan ke arah bentuk baru secara alamiah. Pengaruh ini dapat dilihat
dengan jelas, apabila salah satu anggota masyarakat tersebut berada di luar
kelompok budayanya dan bertemu dengan kelompok budaya lain. Misalnya A berasal
dari Medan. Dalam kehidupan sehari-hari, dia terbiasa berbahasa dengan gaya
bahasa yang keras. Ketika dia berada di daerah Keraton Yogyakarta yang
berbudaya jawa halus dengan tutur kata yang sopan, dia merasa berbeda dengan
orang-orang disekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa budaya orang Medan atau
Batak telah memengaruhi kepribadian A.
b). Unsur
Pengalaman Kelompok
Tanpa pengalaman kelompok, kepribadian
seseorang tidak berkembang. Sejak dilahirkan, seorang anak hidup dalam kelompok
sosial, yaitu keluarga. Dari pengalaman bergaul dengan anggota keluarganya,
secara bertahap anak menerima berbagai pengalaman hidup. Seiring dengan
kematangan fisiknya, berbagai pengalaman sosialpun berakumulasi, sehingga
membentuk suatu gambaran mengenai dirinya. Lama kelamaan, pengalaman yang dia
peroleh semakin meluas. Dari pengalaman bergaul dengan kelompok bermain, teman
sebaya, dan akhirnya dalam lingkungan kerja. Misalnya, apabila seorang anak kehilangan
kasih sayang, biasanya dia gagal mengembangkan kepribadian yang wajar.
Anak-anak seperti ini akan memiliki masalah dalam kepribadiannya. Mereka dapat tumbuh
menjadi orang yang apatis, menarik diri dari pergaulan sosial, atau justru
agresif. Seseorang membutuhkan pengalaman kelompok yang intim untuk dapat
berkembang sebagai manusia dengan kepribadian normal, bukan manusia yang
bermasalah.
c). Unsur
Pengalaman Unik
Walaupun anak-anak dibesarkan dalam satu
keluarga yang sama, bukan berarti mereka selalu memperoleh perlakuan yang sama.
Misalnya, anak pertama selalu akan memperoleh perhatian penuh sebagai anak
satu-satunya sampai lahir adiknya kemudian. Pengalaman itu bersifat unik dan
tidak dirasakan oleh adiknya. Hal seperti ini, terjadi dalam satu keluarga yang
sama. Padahal kenyataannya, setiap keluarga memiliki cara yang berbeda dalam memperlakukan
anak-anaknya. Semua ini merupakan pengalaman yang unik. Setiap pengalaman hidup
seseorang bersifat unik. Unik dalam pengertian bahwa tidak seorang pun mengalami
serangkaian pengalaman yang sama persis, dengan cara yang persis sama. Keunikan
juga berarti tidak ada seorang pun yang mempunyai latar belakang pengalaman
yang sama. Tidak ada pengalaman siapa pun yang secara sempurna dapat
menyamainya. Mungkin saja pengalaman itu serupa, namun tidak akan benar-benar
sama persis. Bahkan, apabila ada dua anak kembar yang diasuh oleh sebuah
keluarga yang sama, kemudian diperlakuan secara sama, disekolahkan pada lembaga
yang sama, dan memasuki kelompok permainan yang sama sekalipun, tidak akan
menjamin kedua anak tersebut memperoleh pengalaman yang sama persis. Setiap
individu menghayati pengalaman yang berbeda, walaupun mengalami peristiwa yang
sama. Anak-anak bermasalah, kepribadiannya juga terganggu. Selanjutnya,
pengalaman yang diterima seorang anak tidak sekadar bertambah, tetapi juga
menyatu. Arti dan pengaruh suatu pengalaman tergantung kepada
pengalaman-pengalaman yang mendahuluinya. Ini berarti bahwa pengalaman setiap
orang merupakan suatu jaringan yang luar biasa rumitnya. Jaringan itu terbentuk
oleh jutaan peristiwa yang masing-masing memperoleh arti dan pengaruh dari
semua pengalaman yang telah mendahuluinya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan
kalau kepribadian seseorang bersifat rumit.
d). Unsur
Sejarah
Sejarah yang dimiliki kelompok masyarakat
merupakan bagian yang tidak dapat pisahkan dari kelompok masyarakat tersebut.
Nilai yang dikandung dalam sejarahnya secara turun-temurun akan dijadikan
semangat dan pegangan dalam bertindak. Sebagai perbandingan, rasa nasionalisme
suatu negara yang mengalami penjajahan. Misalnya, orang Surabaya bangga dengan
sejarah kepahlawanannya sehingga disebut Kota Pahlawan. Orang Sumatera Barat
bangga dengan sejarah yang dibuat oleh Imam Bonjol. Sejarah-sejarah tersebut
secara tidak langsung memengaruhi kepribadian anggota-anggota masyarakatnya
dalam dalam proses interaksi dan bersosialisasi dengan anggota-anggota
masyarakat lain.
e). Unsur
Pengetahuan
Secara teoritik, semakin tinggi tingkat
pengetahuan yang dimiliki seseorang semakin baik pula kepribadiannya. Seseorang
yang memiliki tingkat pengetahuan tinggi biasanya dijadikan panutan dan teladan
bagi anggota masyarakat lainnya. Hal ini menyebabkan, seseorang yang menjadi
panutan merasa bahwa dia harus bertindak dan bertingkah laku sebagimana yang
diharapkan masyarakat yang meneladaninya. Selain itu, pengetahuan yang
dimilikinya berpengaruh terhadap pola pikir yang lebih arif dan bijaksana
sehingga kepribadiannya seseorang akan berkembang secara positif.
d.
Faktor
Kejiwaan
Faktor kejiwaan tidak bersumber pada faktor biologis tetapi
bersumber pada proses interaksi dan sosialisasi dengan masyarakat. Sebagai
hasil dari proses sosial, faktor kejiwaan yang berpengaruh terhadap pembentukan
kepribadian seseorang adalah terdiri atas motivasi dan kebutuhan untuk berprestasi
atau need for achievement yang disingkat n ach.
1). Motivasi
Motivasi adalah dorongan yang membuat seseorang melakukan tingkah laku
tertentu. Motivasi ada yang berasal dari dalam diri seseorang (intrinsik) dan ada
pula yang berasal dari luar (ekstrinsik). Setiap manusia memiliki dorongan untuk
berusaha memenuhi kebutuhan dasarnya. Misalnya, kebutuhan untuk bergaul,
kebutuhan berprestasi, kebutuhan untuk bebas dari rasa takut, dan Proses
Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian lain-lain. Apabila motivasi itu muncul
dengan sendirinya, berarti termasuk dorongan intrinsik. Akan tetapi, bila
motivasi itu dibangkitkan oleh orang lain, maka disebut dorongan ekstrinsik. Motivasi
mengarahkan perilaku seseorang. Misalnya, orang yang bermotivasi tinggi untuk
berprestasi, perilakunya terarah pada usaha pencapaian prestasi. Dengan
demikian hal-hal yang dipikirkannya pun mengarah ke cara-cara memperoleh prestasi.
Motivasi juga membuatnya pantang menyerah walaupun mungkin beberapa kali
mengalami kegagalan. Berbagai risiko yang merintangi tidak menyurutkan kegigihannya.
Dengan demikian, motivasi telah membentuk pola tindakan, pola berpikir, dan
semangat kerja seseorang. Itu semua merupakan bagian dari kepribadian.
2). N ach
N
ach adalah kebutuhan yang dimliki oleh setiap orang untuk berprestasi dalam
lingkungan sosialnya. Bentuk-bentuk prestasi berbeda-beda antara satu dengan
yang lainnya. Bagi pelajar, bentuk n ach adalah berprestasi dalam bidang akademik,
misalnya naik kelas atau lulus ujian. N ach muncul dari proses interaksi yang
berkembang dan kompetitif. Bagi seseorang yang memiliki n ach akan berpengaruh
terhadap pembentukan kepribadian. Keinginan untuk terus berpretasi memunculkan
kepribadian positif seperti tekun, pantang menyerah, optimis, dan sebagainya.
Komentar
Posting Komentar